Membangun Rasa Berdosa dalam Diri Sendiri

 

Nama             : Amandus Lionsius Lowa


Membangun Rasa Berdosa dalam Diri Sendiri

 

I.          Pendahuluan

Semua manusia selalu hidup berdampingan dengan dosa. Meskipun dosa merupakan sesuatu yang buruk dan negatif namun anehnya manusia tidak pernah terlepas dari hal itu. Mengapa demikian? Ada banyak hal dan faktor penyebab yang membuat hal ini terjadi dalam kehidupan manusia. Mesekipun manusia memahami dengan jelas bahwa akibat dari melakukan hal-hal dosa akan berdampak buruk pula pada diri sendiri, orang-orang di sekitar, dan bagi dunia ini. perbuatan dosa dapat dilakukan atau timbul dari banyak hal pula baik dari perkataan, perbuatan, dan bahkan pikiran.

II.          Pembahasan

1)   Dosa

Dosa adalah suatu pelanggaran tatanan atau kepentingan sosial yang digariskan dalam suatu hukum, dan menjadi sebuah pengkhianatan relasi dengan Allah. Dosa dalam Katekismus Gereja Katolik ialah, dosa bukanlah satu pelanggaran terhadap akal budi, kebenaran dan hati Nurani yang baik; ia adalah suatu kesalahan terhadap kasih yang benar terhadap Allah dan sesama atas dasar satu ketergantungan yang tidak normal kepada barang-barang tertentu. Dosa yang dilakukan oleh sesorang akan melukai kodratnya sebagai manusia dan solidaritas manusiawi.[1] Selain itu, dosa juga merupakan suatu penghinaan terhadap Allah, sebab perbuatan dosa yang dilakukan beraarti memberontak terhadap kasih Allah kepada manusia dan membalikkan hati manusia dari Tuhan.

 Ada bebarapa istilah pula yang digunakan untuk menggambarkan dosa, yaitu pemberontakan, dianggap dosa sebab merusak persekutuan dengan sesame manusia dan juga kepada Allah sehingga membuat mereka menjadi kelompok orang-orang yang tidak percaya. Dosa juga membuat keterpecahan persekutuan, hilangnya solidaritas, menghianati janji dengan Allah seperti yang dilakukan oleh bangsa Israel di Gunung Sinai. Dosa membuat seseorang jatuh pada kekosongan dan mengkhianati kebebasan yang diberikan oleh Allah sebab ia ingin keluar dari hubungannya dengan Allah.[2]

Dalam Kitab Perjanjian Lama, dosa yang dilakukan oleh manusia pertama kali dilakukan oleh Adam dan Hawa di Taman Eden. Mereka tidak mentaati perintah Allah untuk tidak memakan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, sebab mereka ingin sama seperti Allah. Perbuatan ini menunjukkan bahwa manusia ingin mengambil posisi Allah Pencipta. Manusia ingin menguasai semua, tidak mau menempatkan diri dalam relasi dengan Tuhan, Tetapi mau mengambil posisi Allah bahkan mau menjadi Allah.

2)   Jenis-jenis Dosa

Dosa yang dilakukan oleh manusia memiliki beberapa jenis pengelompokan dosa, seperti doa ringan, dosa berat, dosa pribadi, dosa sosial, dan dosa asal.

a)   Thomas Aquino menjelaskan bahwa dosa adalah penolakan akan kehendak Allah dan menjadi suatu pemberontakan terhadap Allah. Maka, suatu perbuatan dikatakan dosa berat jika penolakan akan Kerajaan Allah dilakukan secara sadar dan dengan kehendak bebas. Sedangkan dosa ringan terjadi jika seseorang melakukan tindakan yang mengganggu orientasi Tuhan tanpa memutuskan hubungan dan orientasi tersebut. Maka, dosa berat ialah perusakan sesuatu yang esensi dalam hidup sehingga kerusak tersebut tidak bisa diperbaiki kembali, sedangkan dosa ringan merupakan perusakan prinsip penting, namun kerusakan tersebut masih bisa diperbaik sebab tidak memutuskan hubungannya denga Allah. Dengan demikian, untuk menentukan suatu perbuatan dikatakan sebagai dosa berat atau dosa ringan ialah dengan melihat bobot tindakan yang dilakukannya, status tahu dan mau suatu perbuatan, dan akibat yang ditimbulkan dari perbuatan tersebut.[3]

b)   Pada umumnya dosa merupakan perbuatan personal, namun dalam kenyataan setiap orang adalah bagian dari kompleksitas kebersamaan atau sosialitas manusia. Manusia melalukan perbuatan yang jahat dan berdosa, tetapi bisa saja terjadi dosa sosial meskipun pada hakekatnya dosa merupakan suatu yang personal. Hal ini disebabkan secara manusia bersama melakukan dosa dan menstukturkan tindakan-tindakan dosa tersebut.[4] Dosa personal dan dosa sosial telah dilakukan oleh manusia sejak zaman Perjanjian Lama dalam sejaran kebebasan manusia (Kej 1-11).

c)   Dosa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa di taman Eden merupakan dosa pertama yang dilakukan oleh manusia dan dikenal dengan dosa asal. Dosa Adam dan Hawa menjadi dosa bagi semua turunannya sebab dalam Adam seluruh manusia bersatu. Karena kesatuan tersebut semuan manusia jatuh pada dosa asal sehingga akibat dari dosa asal ini membawa seluruh dunia secara menyeluruh jatuh dalam keadaan dosa.

3)   Rasa Berdosa

Rasa berdosa dialami oleh orang yang mengakui kehadiran Allah dan menghidupi relasi dengan-Nya. Paus Pius XII, dalam suatu kongres di Amerika serikat tahun 1946 mengatakan bahwa dosa pada zaman ini terjadi karena hilangnya rasa berdosa. Hal serupa juga dikatakan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam “Reconciliatio et Paenitentia” mengatakan bahwa, “Kehilangan rasa berdosa adalah suatu bentuk atau suatu buah dari penyangkalan akan Allah, bukan hanya berbentuk ateis, tapi juga berbentuk sekularis.”[5]

Dosa dapat dipahami dalam hidup relasional antara Allah dan manusia. Untuk membicarakan perihal doa harus dimulai dari situasi konkris manusia dalm orientasinya pada Tuhan sebab manusia menjadi subjek dosa tersebut. Maka, untuk melihati orientasi tersebut dan membangun rasa bersalah atau rasa berdoa, hal yang harus dilakukan oleh manusia salah satunya ialah mendengarkan suara hati atau hati nurani. Dalam Katekismus Gereja Katolik, hati Nurani merupakan keputusan akal budi, di mana manusia mengerti apakah suatu perbuatan konkret yang direncanakan, sedang dia lakukan atau sudah dilaksanakan.

Hati nurani adalah anugerah Allah kepada manusia sehingga mambuat manusia memiliki kesadaran personal yang berperan dalam situasi konkret untuk mengetahui atai mengenal, menyaksikan, dan mengadili. Secara lebih mendalam, Gaudium et Spes merumuskan hati Nurani adalah inti manusia yang paling dalam dan rahasi, sanggar suci manusia, sebab di situ dia seorang diri bersama Allah yang sapaan-Nya menggema dalam batinnya.[6] Oleh karena itu, keputusan yang diambil untuk bertindak dengan mendengarkan suara hati membuat keputusan tersebut dapat benar sebab berasal dari suara kediaman Allah dalam diri manusia.

 

III.          Penutup

Kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari dosa, sebab sejak lahir pun manusia telah berdosa dengan dosa asal Adam dan Hawa yang diterima. Perbuatan dosa pada hakikatnya membuat relasi atau hubungan manusia dengan Allah menjadi terputus. Itulah penyebab mengapa Allah mengutus Putra Tunggal-nya yaitu untuk memulihkan kembali hubungan tersebut dan menyelamatkan manusia. Perbuatan dosa yang dilakukan oleh manusia cenderung terjadi karna manusia bertindak dengan mengikuti hal-hal yang menjadi kesenangan pribadi ataupun karna kehendak bebas untuk bertindak tanpa pemikiran yang matang tentang baik atau buruknya suatu perbuatan. Oleh karena itu, pentingnya kepekaaan manusia untuk membangun rasa berdosa dalam diri masing-masing dengan mendengarkan suara hati sebagai salah satu jalan untuk memulihkan kembali relasi manusia dengan Allah dan sesama.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

 

Nadeak, Largus. Topik-topik Teologi Moral Fundamental. Medan: Bina Media Perintis, 2015.

Katekismus Gereja katolik, Ende, Arnoldus 19995, no.1849.

Bohr, David. Catholic Moral Traditional. Huntington: Our Sunday Visitor Publishing Division, 1990.

I. R. Poedjawijatna, Etika Filsafat Tingkah Laku (Jakarta: Obor,1977.

Yan van Paassen, Suara Hati Kompas Kebenaran (Jakarta: Obor, 2002.

 



[1] Largus Nadeak, Topik-topik Teologi Moral Fundamental (Medan: Bina Media Perintis, 2015), hlm. 110. Bdk. Katekismus Gereja katolik, Ende, Arnoldus 19995, no.1849.

[2] David Bohr, Catholic Moral Traditional (Huntington: Our Sunday Visitor Publishing Division, 1990), hlm. 134.

[3] Largus Nadeak, Topik-topik Teologi Moral Fundamental …, hlm. 123.

[4] I. R. Poedjawijatna, Etika Filsafat Tingkah Laku (Jakarta: Obor,1977), hlm. 25.

[5] Largus Nadeak, Topik-topik Teologi Moral Fundamental …, hlm. 107.

[6] Yan van Paassen, Suara Hati Kompas Kebenaran (Jakarta: Obor, 2002), hlm. 2.

Komentar